banner 728x90

TPID se-Provinsi Kalimantan Barat Akan Terus Diperkuat dan Difokuskan

banner 468x60

Ilustrasi

PONTIANAK, INDEPNEWS.Com – Asisten Direktur Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Provinsi Kalimantan Barat, Adhinanto Cahyono mengatakan bahwa, koreksi harga pada komoditas bahan pangan mendorong deflasi di Kalimantan Barat pada Oktober 2017.

Hal tersebut terjadi setelah pada bulan sebelumnya mengalami inflasi sebesar 0,32% (mtm), pada Oktober 2017 secara umum terjadi penurunan tingkat harga barang dan jasa di Kalimantan Barat  sebesar -0,26% (mtm) atau 4,81% (yoy).

Deflasi pada Oktober 2017 ini tercatat lebih tinggi dibandingkan dengan rata-rata historisnya dalam tiga tahun terakhir yang tercatat sebesar -0,31% (mtm).

“Hal ini tidak terlepas dari penurunan harga bahan pangan seperti ikan tangkap dan sayuran. Dengan perkembangan tersebut, inflasi Kalimantan Barat selama Januari-Oktober 2017 mencapai 3,79% (ytd) dan masih berada dalam rentang sasaran inflasi 2017 yaitu sebesar 4±1%,” ujar dia pada Minggu (5/11).

Dirinya memaparkan, berdasarkan komoditasnya, komoditas yang memberikan andil terbesar pada deflasi Oktober 2017 adalah komoditas kelompok volatile foods (VF) seperti ikan kembung, sawi hijau, ikan tongkol, cabai rawit, dan bawang merah. Meskipun kelompok VF secara umum tercatat mengalami deflasi sebesar -1,94% (mtm), namun angka tersebut lebih tinggi dibandingkan dengan rata-rata secara historis selama tiga tahun terakhir yaitu sebesar -2,14% (mtm).

“Kembali normalnya pasokan ikan tangkap yang didukung oleh kondisi cuaca yang membaik di lautan lepas mendorong koreksi harga ikan tangkap di pasaran. Melimpahnya pasokan cabai rawit dan bawang merah dari luar Kalimantan Barat membuat pedagang memilih menurunkan harga agar menghindari risiko rusaknya stok barang. Di sisi lain, kenaikan harga pada wortel yang terjadi akibat berkurangnya pasokan (utamanya dari Jawa) menjadi faktor penahan deflasi komoditas VF. Selain itu, kenaikan harga juga terpantau terjadi pada daging sapi, semangka, susu untuk balita serta telur ayam ras,” papar dia.

Dirinya mengungkapkan, tekanan inflasi kelompok komoditas core (inti) mengalami penurunan terhadap inflasi Oktober 2017. Kelompok komoditas inti tercatat mengalami inflasi 0,09% (mtm), lebih rendah dibandingkan rata-rata historis inflasi inti dalam 3 tahun terakhir yang sebesar 0,33% (mtm). Komoditas inti yang mengalami koreksi harga pada bulan ini utamanya adalah upah pembantu rumah tangga, harga nanas, obat gosok, obat dengan resep dan pasta gigi. Tingginya permintaan akan jasa pembantu rumah tangga utamanya di Pontianak mendorong peningkatan upah di bulan Oktober. Di sisi lain, koreksi harga sotong, oyong/gambas, laptop/netbook, baju muslim, dan cabai merah kering menahan inflasi lebih lanjut pada komoditas inti.

“Demikian halnya dengan tekanan inflasi kelompok administered prices (AP) pada bulan Oktober 2017 juga mereda. Inflasi pada kelompok ini tercatat sebesar 0,34% (mtm), menurun dibandingkan inflasi bulan lalu yang sebesar 1,03% (mtm). Sebagaimana telah diperkirakan sebelumnya, kenaikan tarif angkutan udara pasca penghentian sementara operasional maskapai Kalstar menjadi penyebab utama tekanan inflasi pada kelompok ini. Selain itu, masih terjadinya dampak lanjutan kenaikan harga rokok akibat kenaikan cukai sebesar 8,9% mulai Oktober oleh pemerintah juga ikut memberikan tekanan terhadap inflasi komoditas AP. Di sisi lain, tidak adanya komoditas AP yang mengalami deflasi juga menyebabkan laju inflasi komoditas AP pada Oktober menjadi tidak tertahankan,” ungkap dia.

Menurut dia, hingga akhir tahun, tekanan inflasi Kalimantan Barat diperkirakan akan meningkat. Pada November 2017 Kalimantan Barat diperkirakan akan mengalami inflasi. Koordinasi pengendalian inflasi semakin diperkuat terutama dalam menghadapi sejumlah risiko khususnya menjelang musim libur akhir tahun yang berpotensi meningkatkan tekanan inflasi dari kelompok komoditas VF dan AP. Berdasarkan pemantauan pola historis selama empat tahun terakhir (2012-2016), tekanan inflasi November terutama bersumber dari potensi risiko inflasi beberapa komoditas seperti jeruk, sawi hijau, cabai rawit dan tarif angkutan udara.

“Mencermati masih tingginya faktor risiko dan tantangan dalam pengendalian inflasi yang dihadapi, koordinasi TPID se-Provinsi Kalimantan Barat akan terus diperkuat dan difokuskan terutama dalam rangka memitigasi risiko kenaikan harga melalui terjaganya stok serta kelancaran distribusi bahan pangan strategis. Berbagai langkah pengendalian inflasi terus dilakukan seperti peningkatkan produksi komoditas, memastikan kecukupan stok komoditas pangan melalui peninjauan langsung ke pasar tradisional (khususnya jeruk dan sawi hijau), memperpendek jalur distribusi lewat program Rumah Pangan Kita, serta terus mengelola ekspektasi konsumen melalui optimalisasi pemantauan harga komoditas pokok dengan memanfaatkan informasi digital seperti PIHPS (tingkat nasional), PIPHS Enggang (tingkat provinsi) serta GENCIL (Kota Pontianak),” Pungkasnya.

 

(Viky / Red )

banner 468x60
author

Penulis: 

Tinggalkan Balasan