banner 728x90

Tokoh Muda : Pemerintah Salah dalam Menggunakan Kekuasaan

banner 468x60
Spread the love

JAKARTA, INDEPNEWS.Com – Setelah aksi yang dilakukan oleh BEM-SI beberapa waktu lalu dibubarkan dengan paksa oleh pihak kepolisian menimbulkam polemik baru. Menyikapi hal ini, salah satu tokoh muda pengamat sosial politik, Sandri Rumanama merasa bingung dengan suasana sosial dan politik saat ini, ungkap Sandri.

Saat ditemui Sandri Rumanama menuturkan bahwa ironis & miris jika pemerintah salah dalam menggunakan kekuasaan, ungkapnya.

“Iya saya merasa pemerintah terlalu sensi dalam menyikapi isu sosial & politik saat ini.”

Sampai – sampai aksi mahasiswa dengan Trend Isue “Evaluasi Tiga Tahun Kinerja JOKOWI-JK” kok dibubarkan dengan paksa, ini menandakan bahwa pemerintah saat ini memiliki ketakutan tersendiri sehingga sensitive dalam menyikapi persoalan yang ada, bebernya.

Saya, setelah pikir – pikir ternyata adik – adik dari BEM-SI adalah sejati mahasiswa memiliki keberanian sebagai agent of control maka mereka punya tanggungjawab moril terhadapa bangsa ini, setelah itu mereka juga memiliki kesadaran bahwasaanya mereka adalah agent of change, perubahan & peradaban bangsa berada pada tangan mereka. Papar Sandri Rumanama yang juga seorang aktivis mahasiswa dari GMNI ini serta pengurus pusat pemuda LIRA ini.

“Namun yang saya herankan kok bisa – bisanya tidak ada yang datang menemui mereka baik prasiden maupun wakil prasiden atau siapa yang dianggap sebagai pemangku kepentingan untuk adik – adik mahasiswa, ini memberi sinyal bahwa pemerintah saat ini takut untuk dikritisi,” jelasnya.

Ya kenapa saya bilang pemerintah saat ini sensitive dalam menyikapi kritikan, pembubaran paksa oleh pihak kepolisian merupakan salah satu pradigma buruk dalam demokrasi kita, jelasnya.

Sandri membeberkan beberapa bukti sensitive pemerintah dalam menyikapi kritikan yang ada, sekurang – kurangnya ada tiga catatan penting untuk kita ketahui bahwa Aksi 411 berujung dengan pembubaran paksa oleh pihak kepolisian. Aksi bubarkan komunis di LBH Jakarta juga dibubarkan dengan paksa. Yang berikutnya aksi adik – adik mahasiswa BEM-SI juga dibubarkan dengan paksa.

“Lalu ada Seruan AKSI 28 Oktober Melawan Radikalisme & Intoleransi, aksi yang diprakarsai oleh civitas akademik ini penuh dengan tanda tanya, masyarakat awam akan menilai kok kaum intelektual bertindak tanpa ada kajian logis dan objektif, ada apa”? Jelasnya

Lebih lagi ada kecurigaan, tepat pada Hari Santri Nasional bukannya berfikir demi kemajuan santri ini malah santri digiring ke rana praktis dengan membubuhkan tanda tangan santri guna menolak radikalisme & intoleransi, heran saya terlalu mengada – ngada tanpa ada pembuktian riil yang objektif dan keterangan nyata atau ada kejadian pasti sebagai tolak ukurnya, jelasnya.

Sandri menambahkan beberapa pernyataan dengan harapan ada yang menjawabnya.

Sekurang – kurangnya ada beberapa pertanyaan yang harus dijawab oleh siapa saja yang mengatakan adanya kelompok intoleransi & radikalisme itu.

  1. Coba tunjukkan kepada khayalak umum siapa yang dimaksud sebagai kelompok ataupun orang yang disebut intoleransi dan radikalisme tersebut?
  2. Dimana kapan dan pada siapa praktikum radikalis itu ditemui oleh civitas Akademika & Para Pengurus pondok pesantren ini?
  3. Dimana mereka berada, tunjukan tempat atau kantor yang sering mereka gunakan dalam keseharian mereka?
  4. Ukuran atau pendekatan kebenaran mana yang digunakan sehingga para civitas akademika serta pengurus pondok pasantren ini merasa adanya kelompok ekstrimisme sedang bangkit dan berkembang di negara ini?
  5. Kelompok mana saja yang sudah pernah diserang oleh kelompok radikalis dan intoleransi ini.
  6. Apa ideologi mereka para kelompok intoleran dan radikalisme ini, sehingga negara memilki ketakutan tersendiri terhadap mereka?
  7. Apa yang sudah mereka lakukan sebagai bukti otentik dalam hal menggugat konstitusi negara ini ?

Jika ada yang menjawab silahkan biar kami percaya adanya kelompok intolren dan radikalis itu ada.

 

( Jono / Tim )

 

banner 468x60
author

Penulis: 

Tinggalkan Balasan