banner 728x90

SMPN 3 Jonggat Lombok Tengah Rubuh dan 7 Ruang Lagi Berpotensi Rubuh, Pemda Lempar Tanggungjawab

banner 468x60
Spread the love

LOMBOK TENGAH, INDEPNEWS.Com – KPAI (Komisi Perlindungan Anak Indonesia) melakukan pengawasan ke SMPN 3 Jonggat, Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat (NTB) pada minggu, 7 Januari 2018 pada pukul 10-12 Wita kemarin. Ruangan ketrampilan SMPN 3 Jonggat yang digunakan untuk ruang pembelajaran computer rubuh pada 31 Desember 2017 pukul 01.00 Wita. Nampak diruang yang rubuh, puluhan monitor computer turut rusak.

“Sebenarnya saya sedang liburan bersama keluarga di Lombok, kebetulan membaca koran lokal yang memberitakan bahwa SMPN 3 Jonggat, Lombok tengah rubuh.  Akhirnya peninjauan langsung ke lokasi didampingi para guru dari Serikat Guru Indonesia (SGI) Mataram. Ini dadakan tanpa saya rencanakan, hanya tergerak hati memikirkan keselamatan anak-anak SMPN 3 Jonggat,” ujar Retno.

Saat turun pengawasan, KPAI menghubungi Kepala Dinas Pendidikan Lombok Tengah dan memperoleh nomor seluler Kepala SMPN 3 Jonggat. Kepala Sekolah ketika dihubungi mengirim wakil kepala sekolah karena yang bersangkutan sedang berada di luar kota. Subianto, Wakil Kepala SMPN 3 Jonggat, yang kemudian mendampingi KPAI keliling sekolah memasuki seluruh ruangan yang berpotensi rubuh, karena dari 15 ruang kelas, 7 kelas berpotensi rubuh dan membahayakan keselamatan anak-anak, mengingat seluruh ruangan itu sampai sekarang masih dipergunakan untuk proses pembelajaran.

Secara umum, KPAI menyimpulkan bahwa gedung SMPN 3 Jonggat sudah masuk kategori membahayakan siswa, guru maupun karyawan, karena terkategori rusak berat.

Sarana dan prasarana yang ada tidak memenuhi standar minimal dari Standar Nasional Pendidikan (SNP), padahal sekolah ini memiliki 328 siswa dan 40 guru/karyawan. Jika kita memandang sekilas dari lapangan sekolah, sepintas gedung SMPN 3 Jonggat masih baik, namun jika kita memasuki satu persatu ruangannya, barulah kita mengetahui kondisi sekolah yang sangat memprihatinkan, sangat tidak layak dipergunakan untuk proses belajar mengajar. Adapun hasil dari pengawasan KPAI adalah sebagai berikut:

1) Mayoritas kursi dan meja siswa di kelas dalam keadaan rusak dan berpotensi membahayakan anak-anak yang menggunakannya, karena rata-rata sandaran kursi sudah tidak ada dan tersisa dua kayu lancip yang bisa membahayakan anak-anak. Selain itu, meja juga sudah tidak rata dan beberapa kaki meja sudah oleng (foto terlampir).

2) Ada 5 toilet siswa untuk lebih dari 300 siswa, namun seluruhnya nyaris tak layak di pergunakan. Selain rusak berat, juga kotor dan sangat jorok, sehingga para  siswa mengaku memilih menahan  buang air, atau cari lokasi di luar sekolah untuk buang besar maupun kecil (foto terlampir).

3) Seluruh ruang kelas berbau karena lembab, hampir semua enternitnya berlubang dan  lapuk karena air, dan jika hujan deras maka ke-15 ruang kelas bocor dan para siswa harus mengangkat kursi dan mejanya untuk mencari tempat yang aman dari tetesan air hujan (foto terlampir).

4) Sekolah ini tidak memiliki ruang laboratorium IPA, ruang kepala sekolah dan ruang Tata Usaha (TU). Akhirnya, ruang kepala sekolah dan TU dibuat seadanya, di sekat dengan menggunakan triplek.

5) Ada gedung di posisi paling depan dekat pintu gerbang sekolah, menurut info adalah gedung yang baru dibangun tahun 2015, namun kondisinya sudah sangat memprihatinkan, selain bocor parah, bagian atas bangunan juga nampak melekung.

Meski pihak sekolah mengaku sudah 5 kali mengirim proposal pengajuan pembangunan atau rehab total SMPN 3 Jonggat, namun tak kunjung di setujui pemerintah kabupaten.  Dari hasil penelusuran KPAI melalui berita Koran lokal, penjelasan Kepala Dinas Pendidikan Lombok Tengah mengatakan bahwa rehab total  menunggu jawaban pengajuan dari Kemndikbud RI, padahal SD dan SMP berada di bawah tanggungjawab pemerintah daerah.

“Seharusnya Pemda bisa berinisiatif dengan APBD bukan hanya menunggu bantuan dari Kemdikbud RI, seolah melempar tanggungjawab kepada pihak Kemdikbud RI, nanti kalau rubuh dan memakan korban jiwa anak-anak, maka tanggungjawabnya bisa dilempar ke pemerintah pusat juga,” ujar Retno.

Rekomendasi

1) KPAI akan bersurat kepada Bupati Lombok Tengah untuk memprioritaskan rehab total gedung SMPN 3 Jonggat demi melindungi keselamatan peserta didik selama proses pembelajaran. Bisa dibayangkan jika gedung rubuh saat anak-anak sedang belajar, bisa menjadi tragedi kemanusiaan di dunia pendidikan. Jangan sampai jatuh korban dulu baru bertindak.

2) Demi melindungi keselamatan anak-anak dan efektivitas pembelajaran kurikulum 2013 di sekolah tersebut, maka KPAI juga akan mendorong Dinas Pendidikan Kabupaten Lombok Tengah sebaiknya memindahkan para siswa belajar di tempat lain yang lebih aman sambil menunggu rehab total gedung SMPN 3 Jonggat.

3) KPAI juga mendapatkan informasi bahwa pembelajaran di SMPN 3 Jonggat sudah lama tidak berjalan efektif, karena semangat guru-guru untuk mengajar juga menurun akibat kondisi ruangan dan sarana prasarana yang memprihatinkan, untuk itu KPAI mendorong Dinas Pendidikan Lombok Tengah melakukan penyegaran tenaga pendidik di sekolah tersebut melalui mutasi kepegawaian bagi yang berstatus PNS.

4) Meskipun tanggungjawab SD dan SMP berada di pemerintah daerah (baca: Pemda Lombok Tengah), namun KPAI juga akan bersurat kepada Mendikbud c.q Dirjen Pendidikan Dasar untuk memantau ke lokasi langsung demi menlindungi dan menyelamatan para siswa dan guru, juga untuk mengevaluasi proses pembelajaran Kurikulum 2013 di sekolah tersebut yang nampaknya sulit diimplementasikan karena kondisi gedung dan sarana prasarana yang jauh memenuhi standar minimal SNP (Standar Nasional Pendidikan).

 

Salam Hormat,

Retno Listyarti, Komisioner KPAI Bidang Pendidikan

banner 468x60
author

Penulis: 

Tinggalkan Balasan