banner 728x90

Waspadai ASF, Karantina dan Perketat Pengawasan Pelabuhan Penyebrangan Merak – Bakauheni

Spread the love

CILEGON, INDEPENDENTNEWS.ID –  Virus African Swine Fever (ASF) atau demam babi Afrika saat ini menjadi perhatian khususnya Kementerian Pertanian melalui Badan Karantina Pertanian (Barantan). Berbagai upaya pengawasan dan pencegahan dilakukan untuk mencegah masuknya virus ASF tersebut ke Indonesia.

ASF adalah penyakit perdarahan yang sangat menular pada ternak babi dan babi hutan yang disebabkan oleh virus Asfaviridae yang mempunyai tingkat virulensi yang tinggi. Kutu genus Ornithodoros juga bisa terinfeksi virus ini. Dampak serangan penyakit ASF pada ternak babi yaitu, tingkat kematian pada stadium akut bisa mencapai 100%, tingkat kematian pada stadium kronis 30 sampai 70%.

Lalulintas babi melalui Pelabuhan Penyebrangan Merak ke Bakauheni atau sebaliknya terhitung cukup tinggi. Babi dari Sumatera ke Jawa selama tahun 2019 sampai Oktober ini mencapai 39.505 ekor, sedangkan lalulintas dari Jawa ke Sumatera sebanyak 193 ekor.

Upaya pencegahan penyakit ASF melalui Pelabuhan Penyebrangan Merak – Bakauheni dilakukan oleh Kepala Karantina Pertanian Cilegon, Raden Nurcahyo yang berkolaborasi dengan Kepala Karantina Pertanian Lampung, drh. Muh. Jumadh, Selasa (15/10).

Raden menuturkan ada beberapa hal yang disepakati bersama Jumadh. Karantina Pertanian Cilegon maupun Lampung akan melakukan monitoring terhadap pengeluaran babi di daerah asal. Selanjutnya, keduanya akan mengusulkan ke Pusat Karantina Hewan Badan Karantina Pertanian agar lalu lintas babi yang berasal dari daerah dengan jalur risiko tinggi, dipersyaratkan hasil uji lab negatif ASF dari daerah asalnya dan mempertimbangkan persyaratan lalu lintas komoditas pertanian yang berisiko membawa penyakit ASF.

“Semoga dengan pengawasan ekstra ini dapat mencegah masuknya ASF di Indonesia, khususnya di Cilegon dan Lampung,” imbuhnya. (JDH)

banner 468x60
author

Penulis: 

Tinggalkan Balasan