banner 728x90

Darurat, Rakyat Bersama Haidar Alwi dan Presiden Jokowi Siap Tumpas Kelompok Radikalisme

Spread the love

JAKARTA, INDEPNEWS.Com – Perkembangan radikalisme di kampus-kampus kita sudah sangat parah. Mereka bukan saja ada di sana, tapi mereka juga menguasainya. Sel-sel radikal di dunia pendidikan berkembang seperti ganasnya sel-sel kanker yang tidak terkendali.

Hal ini disampaikan Haidar Alwi Penanggung Jawab Aliansi Relawan Jokowi (ARJ) dalam sambutannya melalui rilis media, Senin pagi (06/10/2019) di Jakarta.

“BIN dan BNPT sudah mendapat kajian bahwa 39 persen mahasiswa di Indonesia mendukung radikalisme. Bahkan, Setara Institute mengabarkan bahwa, ada 10 kampus negeri yang sudah terpapar radikalisme. Lebih parahnya lagi, sasaran utama mereka adalah kampus-kampus negeri yang punya nama besar dan sering kali menjadi idola anak-anak kita untuk kuliah di sana. Mulai dari UI, ITB sampai ke UNAIR,” kata Haidar Alwi yang juga aktivis anti radikalisme dan anti intoleransi, serta anti rasisme dan anti terorisme.

Kata Alumni Elektro ITB ini, radikalisme di kampus-kampus bukan lahir dengan tiba-tiba, mereka sudah masuk sejak tahun 1981 melalui kampus negeri yang ada di Bogor. Dan di sana, kelompok itu terlebih dahulu menguasai masjid dan membuat pengajian eksklusif. Proses pengkaderan pun berjalan dengan menempatkan kader-kader mereka di posisi strategis. Mulai Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM), organisasi kemahasiswaan terutama bidang rohani, para Dosen sampai Rektor mereka kuasai.

“Dari sini, mereka mulai menyebarkan kadernya ke banyak Perguruan Tinggi sampai ke pemerintahan, di BUMN dan kementerian. Mereka menguasai beasiswa untuk anak-anak pintar dan mulai melakukan pengkaderan melalui kegiatan rohani Islam di sekolah menengah. Mereka memberi fasilitas kepada siswa pintar dari daerah mulai dari kos gratis, sampai dikawin-kawinkan dengan kader wanita mereka,” ujarnya.

Jadi, menurut Haidar Alwi ketika melihat demo mahasiswa kemarin, dirinya sudah menduga kelompok radikal ini mulai mengaktifkan sel-sel mereka di Perguruan Tinggi untuk membuat kerusuhan termasuk membangun propaganda aksi yang mirip tahun 1998. Lanjutnya, mereka sukses menggerakkan massa karena sudah menguasai BEM di banyak Perguruan Tinggi. Mahasiswa lain yang tidak terpapar hanya ikut-ikutan demo tanpa tahu ada persoalan apa.

“Meskipun perwakilan mahasiswa membantah hal ini, tak dapat dipungkiri dan tak terbantahkan bahwa mereka telah ditunggangi. Apalagi, 3 tokoh utama penggerak demo mahasiswa beberapa waktu yang lalu merupakan alumni jama’ah pengajian yang ada di Bogor, dan kita semua tau kalau Bogor adalah salah satu wilayah yang terindikasi kuat menjadi sarang radikal,” ungkapnya.

Menurut Haidar Alwi, jika mahasiswa saja yang notabene adalah generasi intelektual penerus bangsa sudah mereka kuasai, apalagi masyarakat biasa dengan mudahnya dibodoh-bodohi. Sehingga, dapat dikatakan bahwa bangsa Indonesia saat ini sedang dalam keadaan darurat radikalisme. Apalagi katanya, baru saja seorang dosen di IPB tertangkap Densus 88 karena membuat dan menyimpan bom molotov yang rencananya akan dipakai untuk membakar ruko-ruko di sepanjang Grogol sampai ke Roxy di Jakarta.

“Ini menjadi bukti kuat bahwa dunia pendidikan memang sarang utama kelompok radikal. Mereka menyebar sampai ke Dinas Pendidikan dan Pendidikan Tinggi. Menguasai buku yang harus dibaca pelajar dan mahasiswa sehingga bisa mendoktrin mereka sejak dini. Bahkan, beberapa kampus memberikan beasiswa kepada calon mahasiswa yang hafal Al-Qur’an. Sebuah program diskriminatif yang memanfaatkan dunia pendidikan untuk satu agama saja,” jelasnya.

Haidar Alwi menerangkan, melawan radikalisme di dunia pendidikan memang bukan tugas mudah. Mereka sudah ada di sana puluhan tahun lamanya. Bersarang dan beranak-pinak. Ada HTI, ada Ikhwanul Muslimin, ada Salafi dan Wahabi serta masih banyak lagi aliran yang punya agenda sama, yaitu membangun negeri khilafah di tanah air Indonesia. Meski konsep mereka sebenarnya berbeda. Dan kelak ketika mereka menguasai negeri ini, mereka akan bertarung sendiri satu sama lain untuk berebut konsep khilafah sesuai dengan kelompok mereka masing-masing.

“Negeri yang indah ini kelak akan hancur tanpa warna ketika mereka mulai memaksakan hukum agama sebagai hukum negara. Selesai sudah Indonesia. Tidak ada lagi Pancasila yang dibangun di atas tetesan keringat, air mata dan darah para pejuang. Indonesia yang berdiri di atas perjuangan dan pengorbanan dari banyak suku, agama dan budaya, akan lenyap tak bersisa,” tukas Haidar Alwi.

Dirinya menyerukan, kini pilihan ada di tangan kita. Apakah kita akan berjuang mempertahankan NKRI dan Pancasila, atau malah tunduk tak berdaya di bawah panji radikal dan khilafah. Dan kata Haidar Alwi, kesempatan kita hanya ada di lima tahun yang sangat menentukan ini, saat Jokowi masih memerintah dan sedang berjuang melawan mereka.

“Kita harus ada di sampingnya, mengawalnya sampai masa jabatannya berakhir. Dia adalah Panglima Perang terbaik yang pernah ada. Siapa yang mau berjuang bersama saya dan Jokowi? Jika bukan kita siapa lagi. Jika bukan sekarang kapan lagi. Bersama Haidar Alwi dan Jokowi, Lawan! Lawan! Lawan!,” pungkasnya. (Rud/Red)

banner 468x60
author

Penulis: 

Tinggalkan Balasan