banner 728x90

Budaya Perjudian di Pilkades Serentak Pamekasan, Beginilah Kisahnya !

Spread the love

PAMEKASAN, IndependentNews.id – Pilkades merupakan demokrasi tertua di Indonesia selalu mempunyai cerita yang unik dalam setiap kali perhelatannya. Salah satunya calon yang pada hari pencoblosan disediakan panggung dan semua calon dihadirkan dalam panggung tersebut selama pemungutan suara berlangsung.

Pada pemilihan serentak tahun ini banyak daerah yang sudah melaksanakan pilkades. Tak terkecuali di kabupaten Pemekasan Madura Jawa Timur yang melalui keputusan pemerintah daerah pamekasan menetapkan tanggaal 11 September sebagai hari berlangsungnya pemungutan suara.

Ada 93 Desa yang akan melaksanakan pemilihan dalam pilkades serantak kali ini. Ini adalah pemungutan suara serentak pertama kali dilakukan sepanjang sejarah perhelatan pilkades berlangsung.

Oleh karena itu tentu menjadi harapan kita bersama agar pelaksanaan pilkades berlangsung jujur adil dan yang tidak kalah pentingnya yaitu aman.

Pemerintah harus menjamin keamanan proses pelaksanaan pilkades ini mengingat pemilihan pilkades beda dengan pemilu lainnya. Yang mana tensi persaingannya sangat tinggi.

Ada dua faktor kenapa pilkades selalu meninggi tensi persaingannya. Yang pertama tentu perebutan kekuasaan yang mana bukan semata-mata mencari kekuasaan akan tetapi anggapan kalah dalam pertarungan pilkades dianggap sebagai aib.

Sehingga hal inilah yang memicu tensi persaingan meninggi bahkan untuk menjaga basis suara tim sukses akan menjaga setiap jalan masuk ke rumah warga mulai pagi sampai petang apalagi sudah mendekati hari pelaksanaan tentu penjagaan makin diperketat.

Yang kedua adalah kenapa pilkdes khususnya di Pamekasan begitu tinggi tensi politiknya karena selama ini ada budaya tersembunyi dalam pelaksanaan pilkades yaitu judi atau yang lebih familiar di kalangan masyarakat di sebut “Taroan” (taruhan).

Khusus di Pamekasan sendiri judi dalam pilkades ibarat sayur dan garam tak heran ini juga kadang dijadikan strategi politik oleh calon untuk memenangkan kompetisi.

Oleh karena itu saya menantang kepada semua founding father di Pemekasan khususnya kepada Bupati, Kapolres, bahkan Kapolda dalam pilkades serentak yang akan di laksanakan pada 11 September nanti untuk menangani serius agar tidak terjadi budaya tersembunyi yaitu judi dalam perhelatan pilkades yang akan digelar serentak ini bahkan kalau perlu adakan pencegahan dini mulai saat ini.

Karena sebagaimana kita ketahui dalam judi pasti ada yang kalah ada yang menang bagi yang kalah dampaknya sangat besar bukan hanya mengurangi atau kehabisan asetnya akan tetapi juga berdampak pada kehancuran rumah tangganya dan dampaknya tentu akan meningkatkan kriminalitas, baik itu perampokan, maling bahkan pembegalan tentu hal ini tidak kita inginkan terjadi.

Karena judi atau taruhan dalam pilkades juga terbilang unik mereka bukan hanya menaruh uang yang ada di dompetnya sebagai taruhan akan tetapi banyak yang menggunakan properti nya seperti motor, mobil, tanah bahkan rumahnya.

Jadi sekali lagi saya atas nama putra daerah Pamekasan memohon sekaligus menantang kepada Bupati, Kapolres bahkan Kapolda sekalipun untuk mencegah dan menindak perjudian dalam pilkades ini.

Mari buktikan bahwa pamekasan adalah kota Gerbang Salam yang terkenal dengan budaya agamisnya. Karena perjudian tidak dibenarkan baik dalam hukum negara maupun hukum agama sudah selayaknya hal ini di cegah dan ditindak. Saya yakin ini bisa diatasi jika ditangani dengan serius.

Terakhir mari kita bersama-sama mensukseskan dan jaga martabat demokrasi pilkades serentak di pamekasan ini berjalam aman adil dan jujur, dan menjauhi.

Praktek-praktek yang tidak dibenarkan menurut hukum negara maupun hukum agama mari kita tunjukkan bahwa kita masyarakat bumi gerbang salam demi terwujudnya pamekasan yang Bardatun Toyyibatu Wa Roffun Ghafur.

Ditulis oleh : Eenk Heryono
– Sekretaris Jendral Himpunan Mahasiswa Pengusaha Muda Indonesia
– Putra Desa Lesong Laok Batumarmar Pamekasan

banner 468x60
author

Penulis: 

Tinggalkan Balasan