banner 728x90

Akibat Hutang di Rentenir, 5 Sertifikat Kini Berpindah Tangan

Spread the love

BANYUWANGI, INDEPNEWS.Com – Keberadaan keluarga Sumarah warga desa Sumbergondo, gara gara hutang di rentenir lima sertifikat milik almarhum orangtuanya berpindah nama orang lain.

Karena diduga proses balik namanya tidak prosedur, Sumarah sekeluarga dengan didampingi kuasa hukumnya mengajukan pemblokiran buku tanah tersebut di kantor Badan Pertanahan Nasional BPN Banyuwangi, Selasa 24/04/2019.

Pada hari yang sama pihak kuasa hukum Sumarah juga mendaftarkan gugatan ke Pengadilan Negeri PN Banyuwangi untuk mencari keadilan.

Saat ditemui beberapa awak media di lokasi kantor BPN, Agung Prastianto sebagai kuasa hukumnya membeberkan kronologis perkara kliennya yang ada di Pengadilan Agama PA Banyuwangi.

“Bermula dari membantu membayarkan hutang Rulwati (59) warga dusun Gunungsari RT 02 RW 02 Desa Sumbergondo Kecamatan Glenmore Kabupaten Banyuwangi beserta ke empat saudaranya dengan jaminan 5 sertifikat secara bertahap hingga senilai RP 350.000.000 harus rela berhadapan dengan teman yang diduga merangkap menjadi rentenir hingga berbunga sampai ke nilai Rp 950.000.000.

Melihat gelagat yang tidak baik dari Galih Subowo (43) warga desa Tegal Arum Kecamatan Sempu Kabupaten Banyuwangi yang membantu membayarkan hutang dengan jaminan kelima sertifikat tersebut terkesan berbelit – belit saat hendak dibayar dan lebih parah lagi kelima sertifikat tersebut sudah berganti nama dari pemilik yang lama ke pemilik yang baru membuat geram pemilik sertifikat yang lama dan langsung melakukan upaya hukum.

Proses hukum yang dilakukan penggugat melalui kuasa hukumnya melihat banyak kejanggalan yang dididuga ada sekenario dari peralihan sertifikat tersebut.

Saat dikonfirmasi oleh awak media, Rulwati selaku pemilik mengatakan itu membantu membayarkan hutang dengan meminta sertifikat setelah dibayarkan hutangnya sebagai jaminan.

“Ya, itu memang dia yang membayarkan hutang dengan meminta sertifikat tanpa ada perjanjian tertulis atau apapun sehingga ya saya percaya, ya gak tahu kalau hutang saya ternyata harus membengkak sampai 950 jt itu mas,” ungkapnya dengan nada kecewa.

Sampai pada akhirnya permasalahan hutang piutang tersebut dibawa ke ranah hukum saat ditemui Agung Prastianto SH, MH memaparkan.

“Klien kami sudah mendaftarkan gugatan di pengadilan negeri Banyuwangi dan sebelumnya sudah melakukan sidang di pengadilan Agama Banyuwangi dan sudah menghasilkan kesepakatan bahwa klien kami harus menyiapkan uang sebesar RP 950.000.000 untuk memgambil kelima sertifikatnya dan klien kami sudah menyiapkan uang tersebut,” paparnya.

lebih lanjut Kuasa hukum memaparkan dugaan adanya sekenario di pengadilan Agama Banyuwangi.

“Kan aneh di Pengadilan agama tersebut sidang putusan yang sebelum adanya kesepakan tersebut kita masih harus menyiapkan uang sebesar 45.000.000 dan itu harus terbayarkan, sementara kesepakatan hutang piutang sebesar 958.000.000 sudah kami sepakati dan siap dibayar ternyata Galih masih berbelit – belit,” paparnya.

( Iriek )

banner 468x60
author

Penulis: 

Tinggalkan Balasan