banner 728x90

Suara Nahdliyin Harus Satu Agar Sejarah Kelam Bangsa Ini Tidak Terulang

Spread the love

POLITIK, INDEPNEWS.Com – Pada awal kemerdekaan pada tahun 1947 dan 1948 saat negara masih goyah kyai-kyai NU diculik dan diteror. Peristiwa pemberontakan PKI Muso di Madiun salah satu contohnya. Pada tahun 1998 saat negara mengalami krisis karena pergantian rezim ada kasus NINJA, kembali kyai-kyai NU di tapal kuda mengalami teror dan penculikan. Sampai saat ini kasus NINJA tersebut masih misterius siapa dalangnya.

Setelah era reformasi saat Gus Dur yang merupakan kyai NU menjabat presiden diturunkan di tengah jalan dengan kasus Buloqgate yang sampai detik ini tidak bisa dibuktikan kebenarannya.

Pada tahun ini 2018 menjelang pilpres melihat kenyataan begitu mesranya hubungan Jokowi dengan kyai-kyai sepuh NU (bahkan menunjuk cawapresnya yang juga dari kyai Nahdliyin) hujan fitnahan semakin menggerus elektabilitas dan popularitas Jokowi dan Kyai Ma’ruf.

Kenapa NU yang jelas perannya dalam merebut kemerdekaan selalu difitnah dimomen-momen tertentu, terutama saat negara sedang krisis seperti momen menjelang pergantian rezim atau menjelang pilpres (seolah tidak boleh mengisinya)? Bahkan tidak jarang sesama warga nahdliyin dibenturkan.

Mereka tidak ingin NU solid karena mereka tahu salah satu pilar yang menjaga keutuhan bangsa ini adalah NU. Mereka tidak mau Indonesia menjadi bangsa yang maju karena jika bangsa ini bangkit mereka tidak akan bisa menghisap sumber daya alamnya. Dan parahnya sejak jaman rempah-rempah sampai jaman migas kita masih menjadi bangsa yang mudah diadu domba.

Omong kosong tentang Khilafah, belajarlah dari Negara-negara Islam yang kaya minyak hancur karena arogansi paham yang terlalu dieksplor. Mereka menghancurkan Irak dengan tuduhan Saddam Husein mempunyai senjata nuklir. Sampai Irak luluhlantak senjata nuklir milik Sadam tidak ditemukan.

Mereka hancurkan Libya bukan karena Moamar Khadafi yang otoriter. Mereka hancurkan Suria dengan mengeksplor isu Sunni Siah. Realitanya mereka hancurkan Negara-negara itu karena kebijakan pemerintahan negara2 tesebut tidak sejalan dengan keinginan mereka.

Saddam, Khadafi dan presiden Suria tidak mau jadi badut mereka. Pertanyaannya siapa mereka?

Jujur sebenernya selain bangga saya juga ketar-ketir dengan keberanian presiden Jokowi mengembalikan mayoritas saham freeport, blok Mahakam, blok Rokan dan lain-lain kepangkuan ibu pertiwi.

Mereka yang kepentingannya diusik oleh Jokowi. Bisa jadi memanfaatkan momen pilpres ini. Bisa jadi menunggangi HTI. Memainkan isu SARA. Ekonomi dan adu domba dengan memanfaatkan politikus-politikus busuk yang haus kekuasaan.

Saya setuju dengan pernyataan Bapak BJ Habibie, “musuh terberat Jokowi bukan Prabowo – Sandi melainkan FITNAH”.

Dawuh Kyai Maimun Zubair, “kalo dua hijau di negeri ini masih kokoh, InsyaAllah Indonesia selamat. Siapa dua hijau itu, TNI dan NU.”

 

(WAG-Red)

banner 468x60
author

Penulis: 

Tinggalkan Balasan