banner 728x90

Rapat Mediasi Mengenai Tanah yang Dilewati Proyek PT. PLN Yakni Jalur SUTT

Spread the love

KUBU RAYA, INDEPNEWS.Com – Pada hari Jum’at (11/05/18) pukul 14:30 Wib, Bertempat di Aula Kantor Camat Sungai Ambawang Kabupaten Kubu Raya, telah dilaksanakan mediasi antara Saudara Fransiskus Mulyadi dan Saudara Sila, keduanya mengakui bahwa tanahnya yang dilewati Proyek PT. PLN yakni Jalur SUTT, sehingga mendapatkan kompensasi dari PT. PLN.

Hadir dalam mediasi tersebut, Kapolsek Sungai Ambawang AKP Hery Purnomo, Camat Sungai Ambawang Bpk. H M Jaini, perwakilan dari Kepala Desa Teluk Bakung, Anggota BPD Desa Teluk Bakung Bpk. Yosianti Asil, Anggota BIN Kalbar Bpk. Sastro Sadewo, Perwakilan dari PT. PLN Bpk. Sariyandi .

Dalam giat mediasi tersebut, Camat Sungai Ambawang, Bpk. H M Jaini, S.Sos., M.Si selaku mediator menyampaikan bahwa mediasi ini bertujuan untuk menyelesaikan pembayaran tali asih dari PT. PLN kepada masyarakat yang tanahnya terkena jalur SUTT.

“Mediasi ini juga bukan untuk menyelesaikan siapa pemilik tanah yang terkena jalur SUTT, karena dalam hal ini kedua belah pihak masing-masing mengklaim tanah miliknya, sehingga PT. PLN meminta kami sebagai Muspika untuk memediasinya,” ucap Jaini, Camat Sungai Ambawang.

Dalam kesempatan yang sama, Danramil Sungai Ambawang, Kapten Supanggih menyampaikan bahwa negara ini ingin mensejahterakan rakyatnya, dalam hal inu dapat menikmati listrik sampai tingkat perdesaan .

“Apabila listrik sampai ketingkat perdesaan, maka desa tersebut bisa jadi maju dan kemungkinan ada investor dari luar akan masuk, kemudian dapat meningkatkan ekonomi masyarakat sekitarnya . Oleh karna itu saya mengharapkan mediasi ini dapat diselesaikan hari ini,” terangnya.

Selain itu, Tim Pengawas dari Kejaksaan Tinggi Kalbar, Zolly R juga menyampaikan, adapun yang menjadi dasar dirinya mengatakab bukan ganti rugi, melainkan tali asih bahwa tanah yang dilewati jalur SUTT tersebut adalah hutan produksi yang mana ialah milik negara . Oleh karna itu kami menyebutnya dana penyelesaian teknis atau tali asih, jika dana yang ada tidak timbul kesepakatan maka akan dititip di pengadilan,” ujarnya.

Anggota BIN Kalbar, Bpk. Sastro Sadewo menyimpulkan bahwa permasalahan batas tanah ini adalah masalah keluarga, sehingga seyogyanya diselesaikan di intern keluarga .

“Diharapkan kepada pihak PT. PLN mempunyai kejelasan kepada siapa dana tali asih ini diberikan, jangan sampai masyarakat menganggap permasalahan ini karena adanya jalur SUTT yang masuk ke Desa Teluk Bakung,” tambahnya.

Adapun sesi dialog atau mediasi dari keduabelah pihak yakni, Perwakilan dari Saudara Sila mengatakan pihaknya sepakat dana tali asih yang diberikan oleh PT.PLN dan juga sebagaimana harapane dari Muspika dapat diselesaikan secara musyawarah, dan dana tali asih tersebur dibagi menjadi dua, namu kami harus tau dulu berapa jumlah dana semua yang harus dibagikan.

Kemudian dari Saudara Fransiskus Mulyadi juga menyampaikab kepada pihak PT. PLN bahwa yang di klaim dari PT. PLN hanya separuh, yang sudag dibayar yakni jalur 207-208 dan separuh lagi dijalur 208-209 belum dibayar.

“Untuk saya pribadi tidak bisa memutuskab hak ini, untuk itu saya akan bertanya atau bermusyawarah kepada ibu saya, dan saya memberikan penawaran boleh dana tali asih dari PT.PLN dibagi 2, namun tanah tersebut kembalikan kepada saya,” kata saudara Fransiskus Mulyadi.

Pewakilan dari PT. PLN menerangkan, pembangunan jalur SUTT di Desa Teluk Bakung, yang akan di kompensasi ada Dua yakni, Jalur (1) 207-208 Sebesar Rp. 72.591.000 .

“jalur ini sudah dibayarkan ke saudara Mulyadi, termasuk tanan tumbuh yang ada dijalur (2) yang sudah dibayar sebesar Rp.13.430.000 kepada saudara Mulyadi.”

Kemudian, Jalur (2) 208-209 sebesar Rp.31.077.000.

“Ini yang belum kami bayar, karena belum ada kejelasan dari para pihak,  sehingga ini yang diklaim oleh Sdr. Sila dan Sdr.Mulyadi. Jadi jumpah dana tali asih yang belum dibayarkan berjumlah Rp. 44.507.000,” terang dari perwakilan PT. PLN.

Dari hasil Mediasi yang dilakukab oleh Muspika Sungai Ambawang terhadap Sdr.Sila dan Sdr.Mulyadi belum menemukan titik temu, karena kedua belah pihak masih sama-sama mengklaim  tanah yang dilewati jalur SUTT tersebut, kemudian Muspika memberikan waktu kembali kepada para pihak agar diselesaikan secara intern atau kekeluargaan, apakah dana tali asih ini dibagi menjadi Dua atau kalau tidak ada titik temu maka akan dikembalikan ke Negara dengab cara dititipkan ke Pengadilan.

( Yudha )

banner 468x60
author

Author: 

Leave a Reply