banner 728x90

Selamat Jalan Paku Bumi Madura Cicit Syeikhona Kholil Bangkalan

Spread the love

إنا لله و إنا إليه راجعون

BANGKALAN, INDEPNEWS.Com – Telah wafat cicit Syeikhona Kholil Bangkalan, Kiai Kholilurrahman atau yang lebih dikenal dengan ‘Ra Lilur’ tadi malam di kediamannya di Desa Banjar, Bangkalan. Jenazah akan disholatkan di Ponpes Syeikhona Kholil pada hari ini jam 12 siang. Dan InsyaAllah akan dimakamkan di komplek pemakaman Syeikhona Kholil Martajasah Bangkalan.

Ra Lilur Yang Kami Ketahui…

Beliau adalah Putra dari KH. Ahmad Tamyiz dan Ny. Romlah. Ibunya adalah cucu dari Mbah Kholil Bin Abdul Latif (Syeikhona Kholil Bangkalan).

Dari kecil beliau terkenal sebagai sosok ‘Jadzab’ yang sering melakukan hal-hal yang tidak dapat dicerna pikiran manusia biasa. Puluhan tahun yang lalu beliau bahkan sempat membuat kehebohan karena membakar Ponpes Syeikhona Kholil Demangan yang diasuh oleh kakaknya, KH. Abdullah Schall. Konon itu adalah isyarat bahwa kelak Ponpes Syeikhona Kholil akan maju pesat dan memiliki bangunan tinggi megah setinggi asap api yang ‘Mumbul’ di waktu itu. Sebuah Isyarat yang memang akhirnya menjadi kenyataan.

Beliau juga dikenal sebagai pengamal tirakat tingkat tinggi. Seringkali beliau berkholwat di tempat-tempat yang jauh dari hiruk-pikuk duniawi. Uniknya beliau juga seringkali ‘Bertapa’ di tengah lautan, sampai-sampai pernah ada seorang nelayan merasa jaringnya telah menangkap mangsa yang besar. Sudah kadung senang eh ternyata ia kaget bukan main karena yang ia ‘Tangkap’ adalah Ra Lilur.

Kegemaran ber-Uzlah inilah yang membuat beliau lebih memilih tinggal di pelosok Banjar, jauh dari keramaian dan hiruk-pikuk Kota Bangkalan.

Ra Lilur juga bisa dibilang sebuah ‘Bukti’ nyata dari Ilmu Ladunni. Beliau tidak pernah mondok, ada yang bilang pernah nyantri di sebuah Pesantren selama 3 bulan tapi tidak pernah mengaji, kerjaannya cuma mancing. Meski begitu beliau dikenal sebagai sosok ‘Alim’ yang mumpuni dengan kemampuan Bahasa Arab yang sangat fasih.

Zuhud dan sederhana, 2 sifat yang bisa dibaca jelas dari kepribadian dan keseharian beliau. Baju singlet putih, celana hitam setinggi lutut, dan sebuah senter kecil yang ia bawa kemana-mana. Dengan pakaian ala ‘Petani’ ini sekilas tidak akan ada yang menyangka bahwa beliau adalah seorang ulama besar keturunan seorang wali besar. Beliau memang telah menjadikan kezuhudan sebagai pondasi utama dalam kehidupannya. Beliau bahkan pernah mengeluhkan pada seorang tamunya akan fenomena banyaknya Ulama zaman sekarang yang telah silau oleh ‘Kerlap-kerlip’ duniawi. Dengan bahasa Arab ia berkata kepada tamunya itu, “Jika Ulama sudah mencintai dunia dan lupa akan kedudukannya. Itu berat… Berat… Dampaknya mereka akan terpecah belah. Ya Allah SWT selamatkanlah mereka,” ujar Ra Lilur sambil menangis sesenggukan.

Demi menyampaikan pesannya itu beliau bahkan pernah hadir dalam acara hajatan seorang konglomerat Madura, acara yang dihadiri oleh puluhan Kiai dan Ulama. Tidak ada angin tidak ada hujan, beliau tiba-tiba datang dan langsung menuju panggung acara. Dengan bahasa Arab yang fasih beliau mulai menyampaikan pesan-pesan dan ‘Keluh kesah’-nya akan Kiai-Kiai zaman sekarang yang sudah mulai terlena oleh gemerlap dunia. Dan waktu itu tampaklah pemandangan keren. Seorang lelaki sepuh berpakaian petani sedang menceramahi puluhan Alim Ulama di bawahnya yang seakan terpana melihat apa yang sedang terjadi di hadapan mereka.

Di lain kesempatan, dalam sebuah acara besar di Ponpes Syeikhona Kholil beliau sekali lagi datang tiba-tiba. Sepertinya memang ada ‘Pesan’ penting yang ingin beliau sampaikan waktu itu. Beliau naik ke panggung acara dan memulai kalamnya dengan sebuah ‘Ayat’ yang mengingatkan bahwa kita yang ada di dunia ini akan kembali ke  Hadhirat Ilahi. Tidak ada yang hidup kekal abadi.

أفحسبتم أنما خلقناكم عبثا و أنكم إلينا لا ترجعون

“Apakah Kalian mengira bahwa Aku (Allah) menciptakan kalian secara sia-sia dan kalian tak kan pernah kembali kepada-KU ?.”

Beliau lantas melantunkan Syair-syair cinta yang -sepertinya- sampai sekarang hanya beliau yang mengetahui makna ‘Rahasia’ di balik bait-bait Syair itu :

Apakah salah dosaku

Kau pergi tinggalkan daku

Dulu cintamu padaku

Kini kau abaikan aku

Apakah salah dosaku

Kini kau tinggalkan daku

Dulu kasih mesra kita

Kala cintamu nan murni

Kini ku dalam merindu

Apakah salah dosaku

Kini kau tinggalkan aku

Beginilah akhir cinta

Cintamu palsu belaka

Ku terkapar dalam rindu.

Kita hanya bisa menerka bahwa itu adalah ungkapan cinta dan kerinduan beliau kepada Sang Ilahi. Yang demi Keridhoan-Nya selama ini beliau rela mencampakkan semua bentuk rayuan dan godaan dunia.

Dan tadi malam beliau pergi, menjemput cinta dan rindu yang sudah lama ia pendam itu. Terbebaskan dari semua kepalsuan dunia yang selama ini telah ia singkirkan dari hati dan fikirannya.

Seseorang pernah bermimpi melihat Malik Bin Dinar. Sosok Waliyullah besar di zamannya. Ia melihat Malik keluar dari penjara dan terlihat sangat bahagia.

“Hore Aku bebas. Aku merdeka…”, ucap Malik di mimpinya itu.

Keesokan harinya tersebarlah kabar seantero kota bahwa Malik Bin Dinar baru saja meninggal.

Selamat Jalan Syeikhona…

Engkau yang selama ini selalu mengingatkan kami akan ke-Fana-an dunia. Yang selalu berusaha menarik kami untuk merasakan indahnya kezuhudan yang selama ini kau rasakan.

Selamat menikmati perjalanan indahmu, menjemput pertemuan dengan Allah SWT dan Rasul-Nya yang selama ini engkau rindu. Semoga kami masih bisa mengamalkan pesan-pesan luhurmu. Kami yang masih tertinggal di sini, tertatih-tatih oleh godaan duniawi dan hawa nafsu.

Allah Yarhamak Ya Syeikhona… Wa Yuqoddis Sirrak.

Moh. Hasin, Bangkalan/Surabaya, 25 Rojab 1439 H

banner 468x60
author

Author: